Utopianisa

Puisi || Fiksi || Inspirasi

Friday, December 15, 2017

Saat tengah malam tepat jam dua belas malam, tiba-tiba bumi bergoyang. Semua bertanya ada apakah gerangan?. Ada banyak respon orang terhadap gempa. Ada yang menganggap bahwa gempa adalah ujian untuk peningkatan level keimanan sehingga bersyabar adalah jalan terbaik. Ada yang menganggap gempa adalah peristiwa alam biasa tak perlu untuk diambil hikmahnya. Dan yang terakhir ada yang menganggap bahwa gempa adalah sebuah peringatan terhadap perilaku manusia yang kian tak beretika.

Sunday, November 26, 2017


Jika ada yang tanya pilihan apa yang terberat bagi Sarah, saat inilah. Saat cinta pertamanya, bahkan kriteria dari calon suami idaman ada pada Yandi tapi tak bisa untuk memilihnya. Di saat yang sama Sarah  telah bertunangan dengan Lukman. Pria sederhana yang secara resmi melamarnya dan satu minggu lagi menjadi suaminya.

Saat Sarah memutuskan untuk bertemu dengan Yandi, Sarah telah mempersiapkan segalanya. Hatinya, perasaannya, dan juga keputusannya. Malam sebelumnya Sarah telah mempertimbangkan  keputusannya. Meski berat tapi harus dibuat.

“Maafkan aku Yandi” Sarah mengeluarkan sebuah undangan toska cantik “ini sekaligus sebagai undangan buat kamu, satu minggu lagi” Sarah mantap menyerahkan.

Yandi menerima dan mengamati undangan itu. Tertulis dengan indah Sarah dan Lukman. Yandi yang awalnya terkejut akhirnya tersenyum, meski sedikit dipaksakan. Bagaimanapun Yandi sebelum menghubungi Sarah telah mempersiapkan kemungkinan terbesar, yaitu Sarah telah menikah.
“Selamat Sarah, semoga SAMARA” Ucap Yandi.
“Terima kasih” ucap Sarah sambil tersenyum. Setelah mengobrol sebentar mereka sepakat untuk pulang.

Hari itu ada kelegaan di hati Sarah. Beban selama tiga tahun tentang Yandi akhirnya bisa dilepaskan hari ini. Mereka berpisah di café itu. Yandi pulang ke kampong halamannya, dan Sarah pulang dengan mengambil separuh hatinya yang dulu di bawa Yandi. Kini Sarah bisa memulai hidup baru sepenuh hatinya dengan Lukman.
***
Dua minggu setelah pertemuan dengan Sarah, Yandi telah kembali ke USA. Di kamar apartemennya Yandi melihat-lihat foto pernikahan Sarah melalui akun instagram. Sarah terlihat bahagia dengan lelaki itu, Lukman. Yandi sadar bukan salah Sarah jika kemudian menikah. Seandainya dulu ia memberi kabar Sarah dan mampu meyakinkan orang tuanya bahwa tak perlu mengkuaturkan pernikahan berbeda suku bangsa, mungkin laki-laki bahagia di samping Sarah itu adalah dirinya.
Selamat berbahagia ya Sob..
Tulis Yandi di komentar foto akun pengantin pria. Bisa dikatakan dunia memang tak selebar daun kelor. Lelaki yang bahagia disamping Sarah ternyata Lukman, sahabat terbaiknya ketika SMA. Lukman baru mengabari Yandi atas pernikahannya, ketika Yandi perjalanan pulang dari Bandara setelah bertemu Sarah. Hanya sebuah doa dari jauh untuk Lukman dan Sarah, dua orang yang berarti dalam hidup Yandi.
Berumah tangga tak ubahnya seperti membangun sebuah rumah. Dari mulai pondasi kepercayaan sampai pada genting akad  nikah sehingga rangkaian proses pembangunan sampai pada tahap pernikahan. Tak selamanya bangunan akan menjadi sebuah rumah. Bisa juga sebelum terbangun malah hancur oleh masalah.

Saturday, November 25, 2017


Jalanan kota siang itu merambat padat. Hujan yang mengguyur sejak pagi cukup membuat beberapa ruas jalan tergenang air. Udara dingin yang dibawa hujan cukup menusuk kulit. Butiran hujan membuat kaca jendela bis remang-remang tak jelas. Tentu keadaan itu membuat Sarah tak leluasa melihat keluar.

“Fida aku bingung harus bagaimana” kata Sarah kepada Fida
“Kalau kamu bingung berarti kamu masih menyimpan rasa itu Sarah” Fida menjawab sambil memperhatikan sahabatnya
“Entahlah” jawab Sarah singkat
“Aku hanya kuatir kalau kamu datang bertemu Yandi, kamu akan goyah untuk menikah dengan Lukman” Fida menjelaskan.

Sarah tak menjawab penjelasan Fida. Namun pada akhirnya Sarah menuruti kata hatinya untuk bertemu dengan Yandi di bandara. Seperti sekarang Sarah berada di bis kota menuju bandara.
Pikiran Sarah kembali pada sosok Yandi. Seperti fragmen film yang memutar kembali lagi awal pertemuan dengan lelaki yang dikaguminya itu, dulu. Tiga tahun lalu.

Entah suatu kebetulan atau sebuah takdir, Sarah dan Yandi beberapa kali bertemu di parkiran masjid tempat mereka mengikuti ahad pagi. Tapi tak ada bicara apalagi menyapa. Mereka segera mengalihkan pandangan ketika tanpa sengaja mata mereka bertemu. Tapi tak demikian ketika tanpa sengaja bertemu di toko buku langganan mereka. Ketika ingin pulang motor Sarah mogok tak bisa dinyalakan. Yandi yang kebetulan ingin melihat Sarah menawarkan bantuan untuk membawa motor Sarah ke bengkel yang terdekat. Namun karena hari sudah sore bengkel pun sudah tutup. Yandi pun meminta Sarah membawa ke kosan motornya, sementara motor Sarah dibawa Yandi ke kosnya yang dekat dengan toko buku.

Sejak kejadian itu Yandi dan Sarah bisa dibilang dekat. Namun mereka tahu sama- sama tak ingin membina hubungan bernama pacaran. Telpon pun sekedarnya jika benar-benar perlu. Namun mereka berdua sama- sama tahu kalau sebenarnya benih ketertarikan atau cinta mulai tumbuh diantara mereka.
“Sarah bagaimana kalau kita menikah?” tanya Yandi ketika menelpon Sarah
“Tapi saya masih kuliah” jawab Sarah
“Kamu tetap bisa melanjutkan sambil berumah tangga” jawab Yandi

Saat itu Sarah memutuskan untuk mengungkapkan niatnya kepada kepada ibunya. Bagaimanapun hatinya ingin menyempurnakan separuh dien dengan Yandi
Sore itu rumah Joglo yang bercirikan khas Jawa terlihat menampakkan kesibukkannya. Tanaman yang tumbuh subur di depan rumah semakin cantik karena tertata rapi. Aneka bau makanan lezat membuat air liur keluar karena ingin segera menikmati. Anak kecil berlarian tanda ikut larut dalam kebahagian.

Ada kelegaan tersendiri ketika berton beban terlepas dari badan. Saat sudah pasrah padaNya setelah ikhtiyar dilakukan akhirnya datanglah jawaban. Langit yang dulunya gelap kini menjadi terang. Bunga pun semakin cantik dengan aneka warnanya.
“Saya bingung Fid belum menemukan jawaban atas istikhorohku” Sarah curhat kepada sahabatnya. Buku yang sedari di buka dihadapannya akhirnya ditutup juga.
“Sarah istikhoroh tak selalui melaui mimpi atau keyakianan dihatimu” jawab Fida sambil mematikan laptopnya.
“Maksudnya?” tanya Sarah
“Jawaban istikhoroh bisa melalui orang-orang di dekatmu. Jadi gini seumpama kamu belum yakin tapi orang yang sangat dengan mu telah meyakini bisa jadi ini adalah jawaban dari istikhoroh” Fida menjelaskan kepada Sarah
“Kalian, kalau ngobrol di luar saja jangan di perpus” suara penjaga perpustakan ketus. Sarah dan Fida membalas dengan senyum kecut.
Meskipun dimarahi penjaga perpusatakaan gara- gara obrolannya dengan Fida tapi hati Sarah bahagia. Dia telah menemukan sebuah keputusan yang selama dua minggu ini terus dipikirkan.

Sejak pertama kali keluarganya mengajukan Lukman sebagai calon Sarah, ada kebahagian dari wajah ibunya. Bukan sekedar anak bungsunya mendapatkan calon suami tapi lebih dari itu. Begitupun dengan Mbak Mira yang terkenal super duper cerewet. Tak banyak pertanyaan atau pertimbangan yang disampaikan. Apalagi Mas Ilham, bagaimanapun Lukman adalah salah satu sahabat baiknya. Jadi Mas Ilham paham betul bagaimana luar dalam dari Lukman.

“Assalamualaikum Mas Ilham” telpon Sarah kepada Ilhma
“Waalaikumsalam, ada apa Sarah” Ilhma bertanya pada Sarah
“Anu Mas, ehm..tentang Mas Lukman” Sarah bingung melanjudkan
“Jadi kamu sudah memutuskan Sarah tentang pinangan Lukman?” tanya Lukman
“Bismillah, Insyallah Sarah melanjutkan proses dengan Mas Lukman” ucap Sarah dengan bergetar.
“Alhamdulillah” jawab Ilham

Kabar dari Sarah itupun segera Ilham sampaikan pada keluarga Sarah, dan tentunya Lukman. Sama seperti keluarga Sarah Lukman sangat gembira mendengar kabar gembira tersebut. Itu artinya Lukman akan emmberitahukan keluarga besarnya untuk datang ke rumah Sarah untuk secara resmi melamar Sarah untuk Lukman.

Friday, November 24, 2017


Ada yang mengatakan, mengharapkan sesuatu yang tak mungkin bagaikan pungguk merindukan bulan. Namun bagi orang yang optimis, segalanya bisa mungkin dengan usaha dan tentunya doa. Jika toh pada akhirnya tak seperti yang diharapkan, akan ada kepuasan setidaknya tak mati percuma sebelum berusaha.